29.4 C
Indonesia
Monday, June 17, 2024

PERLINDUNGAN ANAK DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN SOCIETY 5.0

Penulis: W. Wartawan, SH
– Ketua Komnas Perlindungan Anak Propinsi Jawa Barat
– Mahasiswa Prodi Komunikasi Universitas Siber Asia

UNDANG-Undang 52 Tahun 2009 mengamanatkan penduduk harus menjadi sentral dalam pembangunan berkelanjutan ( sustainable development) hal ini berarti  pembangunan yang terencana di segala bidang guna menciptakan perbandingan ideal antara perkembangan kependudukkan dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan serta peningkatan kualitas generasi mendatang untuk mensukseskan pembangunan. Karenanya pentingnya memandang penduduk tidak saja sebagai objek melainkan sebagai subjek (pelaku ) pembangunan, disisi lain tatkala penduduk dipandang sebagai subjek pembangunan, maka diperlukan pemberdayaan utamanya kualitas sumber daya manusia dalam pembangunan. Hal ini selaras dengan Nawa Cita Presiden JOKOWI point 5, yakni “ Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia “, dan lebih dipertegas kembali dengan logo “ SDM Unggul Indonesia Maju “ pada HUT Kemerdekaan RI ke 74.

Saat ini pemerintah sedang menggemakan  revolusi industri 4.0, yakni perubahan dalam usaha mencapai produksi dengan menggabungkan teknologi cyber dan teknologi automasi. Di sisi lain era Society 5.0 yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi menjadi suatu kearifan baru yang muaranya pada peningkatan kemampuan manusia untuk membuka peluang bagi kemanusiaan demi terwujudnya kehidupan yang bermakna. Kondisi ini tentu berimplikasi di hampir semua aspek kehidupan, baik ekonomi, politik dan relasi budaya. Menjadi bahaya jika dalam relasi antar keluarga, ataupun relasi antar anggota keluarga longgar. Banyak ditemui interaksi antar anggota keluarga terjadi diluar ruang ( outdoor) daripada didalam rumah (in house), bahkan tatkala secara fisik ada dirumahpun, antar anggota keluarga asik dengan gadgetnya sendiri-sendiri. Terkesan bahwa keluarga-keluarga ini hanya berfungsi untuk pemenuhan ekonomi serta kesenangannya semata. Karenanya BkkbN berusaha membudayakan “ kembali ke meja makan”, tentunya disertai interaksi antar anggota keluarga.

BKKBN memandang bahwa keluarga adalah wahana yang strategis dalam pembentukan sekaligus pengembangan SDM yang berkualitas. Berbicara tentang Sumber Daya Manusia yang berkualitas , tidak lepas dari keluarga, dimana keluarga adalah unit terkecil (center of development) yang penting dikuatkan guna mencapai SDM Unggul menuju Indonesia Emas 2045. Keluarga memiliki fungsi yang cukup penting dalam mempersiapkan niliai-nilai positif bagi tumbuh kembang anak sebagai fondasi (based) pembentukan SDM yang berkualitas.

Tantangan Kependudukan dan Keluarga  di Era Industri 4.0 dan Society 5.0
Kependudukan merupakan kemampuan pemerintah dalam mengantisipasi dan mengendalikan penduduk yang pada gilirannya dapat mengatasi atau mengurangi fenomena yang terjadi, seperti pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, kriminalitas, krisis lingkungan hidup dan sebagainya. Besarnya jumlah penduduk dengan selang usia produktif  di satu sisi menjadi sebuah keuntungan, bila penduduk usia produktif dikatakan berkualitas. Tetapi di sisi lain dapat menjadi bencana ketika penduduk usia produktif dalam kondisi pendidikan rendah, keahlian rendah, serta kondisi kesehatan yang buruk, sehingga tidak dapat berproduksi secara optimal.

Kependudukan merupakan faktor yang sangat strategis dalam kerangka pembangunan. Dalam konsep ini penduduk ditempatkan sebagai tujuan akhir (the ultimate end), bukan alat, cara, atau instrumen. Pembangunan dipandang sebagai sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Penduduk adalah subyek dan obyek pembangunan. Sebagai subyek pembangunan maka penduduk harus dibina dan dikembangkan sehingga mampu menjadi penggerak pembangunan. Sebaliknya, pembangunan juga harus dapat dinikmati oleh penduduk yang bersangkutan. Dengan demikian jelas bahwa pembangunan harus dikembangkan dengan memperhitungkan kemampuan penduduk agar seluruh penduduk dapat berpartisipasi aktif dalam dinamika pembangunan tersebut. Sebaliknya, pembangunan tersebut baru dikatakan berhasil jika mampu meningkatkan kesejahteraan penduduk dalam arti yang luas.

Dalam konteks ini, kita menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan penduduk harus dimulai dari pemberdayaan individu, dengan tidak mengurangi peran keluarga sebagai wahana pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas.

Disisi lain, data kependudukkan dunia, Indonesia masih menduduki urutan ke-empat dunia. BPS merilis dengan Laju Pertumbuhan Penduduk saat ini sebesar 1,38 % diprediksi pada tahun 2020 jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 271 juta jiwa. Hal ini tentu berimplikasi pada sempitnya lahan per individu, makin kompetitifnya dunia kerja, terdegradasinya perilaku sosial yang dijadikan norma berkehidupan.

Sedangkan diluar sana, dunia disibukkan dengan transformasi sosial dalam pola kehidupan, yakni transformasi Tekhnologi Informasi, hal ini adalah sesuatu yang tidak terelakkan dan harus dihadapi oleh bangsa Indonesia. Karenanya urgent sekali kebijakan pemerintah terhadap pengarusutamaan kependudukan dan  Keluarga Berencana guna mewujudkan  masyarakat yang  benar-benar siap secara mental maupun intelektual memahami apa  yang ingin dicapai dalam  menerima sebuah perubahan. Berdasarkan UU 52 tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukkan dan Pembangunan Keluarga, BkkbN diberi amanah oleh Negara untuk mengatur dan mengelola penduduk Indonesia, tidak hanya dari sisi kuantitas melainkan juga segi kualitas manusianya.

Saat ini revolusi industri industri 4.0 tidak hanya menjadi tantangan negara, melainkan juga telah menjadi tantangan bagi keluarga keluarga Indonesia. Tantangan Revolusi Industri 4.0 berkaitan dengan pemakaian gawai pada individu- individu dikeluarga. Revolusi industri 4.0 perlu didukung oleh SDM yang maju dan adaptif terhadap perkembangan tekhnologi. Kegagapan manusia atau keluarga terhadap teknologi akan menciptakan gap sosial, ekonomi, budaya dan masalah-masalah baru di masyarakat. Hadirnya era Revolusi Industri 4.0 dan menjelang Society 5.0 inilah yang menciptakan “Gap digital “ dikehidupan berkeluarga. Menjadi PR besar bagi Indonesia dimana masyarakatnya heterogen, dengan keberagaman serta disparitas pendapatan perkapita. Disinilah kunci/ peran keluarga dengan anggota-anggota individunya ( SDM Unggul ) diharapkan menjadi keluarga yang berkualitas. Menyiapkan SDM yang berkualitas tidaklah mudah, karena membentuk perilaku keluarga ditengah hantaman revolusi industri 4.0 ini berpengaruh pada persoalan pola asuh, hak, kewajiban, tanggung jawab, pembagian peran baik didalam maupun di luar rumah. Hal yang harus kita ingat bersama generasi saat ini, sebagian dari mereka telah dewasa bahkan ada yang berkeluarga ataupun sudah memiliki anak. Disadari atau tidak generasi milenial ini memiliki kebutuhan, asa, tantangan yang berbeda dengan generasi X ( lahir 1945- 1980 an). Generasi saat ini (Digital Native) merupakan gambaran seseorang (terutama anak hingga remaja) yang sejak kelahirannya telah terpapar gencarnya perkembangan teknologi, seperti perkembangan komputer, internet, animasi dan sebagainya yang terkait dengan teknologi. Sedangkan “Digital Immigrant” merupakan gambaran seseorang (terutama yang telah berumur) yang selama masa kehidupan anak hingga remaja berlangsung sebelum berkembangnya komputer. Di sisi lain era Society 5.0 yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi menjadi suatu kearifan baru yang muaranya peningkatan kemampuan manusia untuk membuka peluang bagi kemanusiaan demi terwujudnya kehidupan yang bermakna. Sentuhan humanism didalam konsep Society 5.0 akan menjadi modal dasar untuk diterima oleh masyarakat dunia. Konsep Society 5.0 didasari akan berkurangnya penduduk usia/ tenaga kerja produktif berbanding dengan usia lansia yang bertambah, sehingga semakin disadari tanpa bantuan digital akan sulit melayani kebutuhan manusia, mengingat jumlah usia/tenaga produktif yang semakin berkurang. Hal ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan internet of things,big data, artificial intelligence, robot dan sharing economy plus berfocus pada humanisme.
Sesungguhnya Indonesia bisa menangkap era ini sebagai peluang, karena kita mengalami apa yang disebut dengan “ Bonus Demografi ” pada era 2020- 2045. Tidak masalah bagi Indonesia langsung berpijak pada dua kaki, yakni era revolusi Industri 4.0 sekaligus Society 5.0. Bukan hal yang mustahil mengingat negara Indonesia memiliki SDM dan SDA yang tidak dimiliki negara-negara lain. Salah satu tantangan di era revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 yakni masalah relasi antar anggota keluarga. Karenanya peran keluarga secara spiritual harus mampu mendidik anak-anak sesuai dengan nilai-nilai moral dan social. Peran/ fungsi di setiap keluarga terdapat nilai-nilai moral ( moral values) yang harus diterapkan oleh keluarga, yaitu : Fungsi Agama, Fungsi Sosial Budaya, Fungsi Cinta dan Kasih Sayang, Fungsi Perlindungan, Fungsi Reproduksi, Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan, Fungsi Ekonomi dan Fungsi Lingkungan. Keluarga juga harus mampu mengembangkan standar norma dan kultural guna menentukan mana ide yg bisa diterima dan yang tidak bisa diterima ( dari segi sosio kultural dan agama ). Disisi lain antar anggota keluargapun harus mampu mengembangkan melek media dan informasi, hal ini dimaksud agar orang tua bisa mengawasi apa yang dilakukan anak dalam memperlakukan Teknologi Informasi. Hal yang patut dikembangkan juga adalah menanamkan pola komunikasi keluarga yang demokratis ( untuk mengakomodir perubahan generasi dalam keluarga ). Pola yang ideal adalah berkumpul, berkomunikasi, berinteraksi dan berbagi. Pola ini oleh BkkbN didengungkan kembali melalui “ kembali ke meja makan “, dengan harapan tatkala makan bersama terjadi 4 pola tersebut. Kembali ke meja makan tidak berarti manakala salah satu pola ini tidak dijalankan, berkumpul tanpa ada interaksi dan komunikasi akan tidak berarti.

Tantangan- tantangan  ini yang harus mendapat perhatian pemerintah, sudah saatnya pemerintah dan kalangan industri melihat generasi milenial sebagai individu yang nantinya akan membangun sebuah keluarga, bukan melulu melihat generasi milenial sebagai pekerja (labour), karena dari keluargalah pembentukan SDM berkualitas tersebut dimulai. Program 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) adalah salah satu contoh program BKKBN sebagai upaya membentuk SDM yang berkualitas. Disamping itu BkkbN juga berusaha mengawal siklus hidup individu dengan pembentukan kelompok-kelompok kegiatan, seperti Bina Keluarga Balita, Remaja, Lansia. Hal itu dimaksud supaya keluarga-keluarga yang memiliki Balita, Remaja atupun Lansia memahami betul pola asuh, interaksi antar anggota keluarganya.

Membangun keluarga – keluarga  Indonesia  di era revolusi Industri 4.0 serta menjelang era Society 5.0 ini tidaklah mudah. Namun, setidaknya ada asa besar untuk dapat menumbuhkan kesadaran akan pentingya keluarga sebagai pondasi dalam membentuk SDM unggul menuju Indonesia Emas 2045 telah dilakukan bersama sama oleh pemerintah bersama para keluarga-keluarga di Indonesia. Optimisme harus selalu kita gaungkan..SEMOGA..!

BERITA TERKAIT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
0FollowersFollow
- Advertisement -

BERITA TERKINI